Alkisah.. di suatu rumah sederhana di kota gudeg, Jogja, terjadi perdebatan antara seorang ayah yang sedang sakit keras, dengan anak lelakinya..
"aku mau ngamen pak," kata si anak dengan suara tegas
"jangan pergi..,"kata si ayah lemah
"tapi ini kesempatan pak.. saya harus pergi," jawab si anak tak mau kalah
"aku ngga mau kamu pergi," kata si ayah dengan suara meninggi
"saya musti pergi pak, ngga bapak ijinkan pun saya akan tetap pergi" hardik si anak lelaki
"kalau kamu pergi, bapak pasti mati.." jawaban terakhir dari ayah, sembari melihat punggung anak lelaki bontotnya yang sudah melangkah keluar rumah..
Bersama teman-temannya, mereka pun pergi ke tanah impian, Bali.. bersama seorang tentara berpangkat Sersan Dua, Waryadi, mereka pergi bermain musik di sebuah mess di kota Bali.. malam harinya, rambut semua anak-anak tanggung itu pun digunduli habis.. mereka pun bertanya, ada apa gerangan.. sampai seseorang yang akhirnya mereka sebut Komandan pun berkata bahwa mereka semua akan direkrut menjadi TENTARA..!!
"SIAPA YANG MAU PULAANG??"
tidak ada satu orang pun yang berani (atau mau) tunjuk tangan..
"YANG MAU PULANG.. SILAKAN PULANG!!!" suara pak Komandan menggelegar..
"TIDAK.. KOMANDAN" jawab mereka kompak..
Dengan kerelaan hati, mereka pun di"godok" menjadi anggota Korps Musik di Udayana, Bali.. belum sebulan mengenyam pendidikan ketentaraan dan bermusik, kabar itu pun datang.. anak lelaki keras kepala itu dipanggil oleh pak Komandan..
"Bapakmu sudah meninggal, pulang kamu??"
"Tidak punya uang, komandan!!" jawabnya..
"Pulang kalau memang kamu mau pulang.. akan kembali kamu?" tanya pak komandan
"SIAP KEMBALI, Komandan" jawabnya
sore itu juga, dengan hati gundah, satu buah terompet pun dijual, demi kembali pulang... sepanjang perjalanan pulang, entah apa yang ada di pikiran anak lelaki itu.. sampai suatu malam di sebuah tumpangan truk, ia pun bermimpi..
"ayo ikut bapak.." si ayah kembali datang dalam mimpinya..
"enggak pak.. aku ngerti bapak sudah ngga ada.. dan aku sudah ikhlas.."
sesampainya di Jogja, apa daya, ayah tercinta sudah dikebumikan.. tak ada sedikit pun penyesalan, hanya sebuah janji, dari seorang anak lelaki untuk ayahnya, bahwa "aku akan selalu membuat bapak bangga.."
Hingga tibalah saat itu, 1 Mei 1959, anak lelaki itu pun dilantik secara resmi menjadi seorang tentara, dengan pangkat Prajurit Dua.. "bapak.. sekarang aku bisa mengabdi untuk negara, agar engkau bangga akan diriku.."ucapnya seolah menuntaskan janji itu...

*dikisahkan oleh papaku, mengenang 50 tahun yang lalu dia menjadi seorang tentara.. aku pun bangga terhadapmu, pa..
lalu aku pun bertanya," apa komentar papa mengenai Komandan di Yonif 751 yang mengebiri tunjangan-tunjangan anak buahnya??"
"DENDAM!! tak sepatutnya seorang Komandan menindas perut anak buahnya.."